
BAK sebuah mode, kecenderungan para penggemar motor yang berani mempertontonkan keahliannya dalam berakrobat, kini menggejala kembali. Fenomena ini pernah timbul sebelumnya pada awal tahun 1980-an bahkan sebelumnya. Berbeda dengan apa yang diperlihatkan oleh para senior HCB (Harley-Davidson Club Bandung) dengan pasukan Hell Rider-nya, dengan motor sport atau jenis bebek, komunitas freesylepunya banyak variasi untuk bermanuver. Mungkin karena bobotnya yang relatif ringan. Kecenderungan tersebut tidak terlepas dari apa yang kini tengah berkembang di Amerika Serikat, lewat berbagai film dan VCD yang beredar. Hal itu oleh beberapa klub motor di Bandung yang memiliki divisi x-treme freestyle, dijadikannya sebagai panduan untuk berlatih mengasah nyali Sebut saja trio sekawan asal AS jagoan freestyle, seperti Ben "Bendoe" Ellingson, Shiro, dan Tim "Tim Dog" McNamara, yang melansir DVD secara komersial untuk bisa memperlihatkan kabisanya berakrobat di atas motor besar seperti Honda 954 RR, CBR 600 F4, Kawasaki ZX8, dan GSX-R1000.
Dunia freestyle motorcycle di tanah air semakin bergairah, apalagi setelah kunjungan Jean-Pierre Goy, pemeran pengganti atau stuntman untuk aksi membahayakan dalam serial film James Bond. Dia sengaja diundang ke Jakarta untuk mempertontokan aksi hebatnya oleh Suzuki baru-baru ini.
Kini di Kota Bandung, setidaknya ada dua komunitas sepeda motor yang memiliki tim akrobat seperti itu. Kawasaki Ninja Club (KNC Bandung) yang punya divisi racingdan x-treme freestyle serta Popeye. Komunitas itu secara khusus mengandalkan keahlian anggotanya di bidang freestyle.
"Kami memiliki 6 orang yang berpotensi bisa menggali keahliannya dalam aksi freestyle. Mereka itu adalah Lucky, Dea, Asep, Indra, Dayak, dan Yopie sebagai jagoan di divisi tersebut ," ujar Ricky Erlangga, Ketua KNC yang biasa disapa dengan nama Kimung.Klub yang bermarkas di Jalan Pungkur, Bandung ini hanya menggunakan Kawasaki Ninja.
Aksi memukau yang cukup membahayakan pengemudi yaitu berdiri di atas jok motor dalam kecepatan tinggi (stand no-han). Kemudian dengan roda belakang terangkat sang rider duduk diatas stang (rolling stoppi). Aksi lainnya yang tak kalah mendebarkan seperti wheelie, endo, burn-out, surfing, sky, rodeo, cross line dan yang sejenisnya mereka lakukan dalam latihan untuk mengasah kemampuan. Hampir setiap sore aksi mereka bisa ditonton di sisi timur areal Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, sekitar Jln. Dipatiukur Bandung.
Lain lagi dengan Popeye. Tim itu menggunakan kendaraannya dengan variasi lain. Tak hanya menggunakan motor jenis sport, komunitas yang bermarkas di Jln. Melania Bandung ini juga menggunakan jenis bebek atau skutmatic untuk unjuk gigi memperlihatkan kabisa-nya yang tak kalah mendebarkan.
"Jika tidak hujan, setiap pkl. 4-6 sore kami berkumpul bersama untuk berlatih," kata Kates, salah satu pentolan Popeye yang giat latihan menghadapi sebuah kejuaraan di Jakarta. Seperti juga KNC, komunitas ini memiliki anggota yang rata-rata duduk di bangku SMU atau anak kuliahan.
Apakah secara komersial mereka juga membuat semacam manajemen, seperti yang dilakukan koleganya di negeri Paman Sam sana?. Hampir senada Kates dan Kimung menjawab bahwa mereka tak memasang tarif tertentu untuk tampil. "Untuk saat ini dibayar saja sudah senang. Lumayan sebagai pengganti bensin. Tapi untuk 3 bulan ke depan, kami sudah menyiapkan diri dengan VCD sebagai alat promosi.
|