| Konon, atraksi motor freestyle adalah gabungan olahraga supercross dan aksi ekstrim sepeda BMX!
UNTUK penggemarnya, atraksi motor ini merupakan seni berkendara tingkat tinggi. Betapa tidak, untuk melakukannya butuh skill dan nyali besar. Tak heran, bila atraksi motor freestyle kini semakin digemari kaum muda bahkan sudah jadi tren di kota-kota besar. Di kalangan penggemarnya, atraksi ini dianggap seni berkendara tingkat tinggi.
Modifikasi Ringan
Sembari melaju, roda depan motor Shogun itu terangkat tinggi. Masih di posisi itu, si pengendara malah berdiri dan menumpangkan sebelah kakinya tepat di atas speedometer kendaraannya. “Udah bagus, tapi kalau bisa agak jauh lagi,” teriak Godek, dedengkotnya tim Junior Raider Team sembari mengacungkan jempolnya ke atas saat latihan. Berdasarkan pengalamannya, sebaiknya lakukan persiapan dengan matang, terutama untuk motor yang akan digunakan. Baik itu jenis motor bebek maupun yang bertipe sport.

Bila perlu, lakukan sedikit modifikasi agar mekanisme gerak motor bisa bermanuver dengan gaya yang akan anda lakukan. Syukurlah, modifikasi yang dilakukan tergolong ringan dan tidak sedetail motor kontes. Artinya, rombakan itu tidak mengeluarkan biaya yang lumayan besar. Walau begitu, tetap saja harus memperhitungkan sisi keamanan, fungsionalitas, durability, dan keseimbangan motor yang dipakai.
Untuk awalnya, cukup memodifikasi pada bagian-bagian yang dianggap perlu dan disesuaikan dengan gaya yang akan dipelajari. Selain menghemat biaya, resiko pun bisa diminimalisasi. Dari penggantian ban anti slip, rem hingga sampai urusan shock breaker. “Kalau ada dana cukup, lebih baik pakai velg aluminium aja, karena bahan materialnya ringan, dan kuat,” terang Godek. Menurutnya, meski motor bawaan pabrik sudah cukup, adakalanya versi racing lebih aman saat digunakan. “Satu lagi, sebaiknya casing body, speedometer dan lampu depan dicopot. Selain gampang pecah, komponen itu mahal dan memang tak dibutuhkan,” sarannya.
Teknik Dasar
“Setidaknya, ada tiga gaya dasar yang wajib dipelajari untuk beraksi ala motor freestyle, selebihnya merupakan pengembangan sendiri,” papar Robbie, freestyler yang bergabung dalam tim Junior Raider Team. Dari mulai gaya stoppie (teknik mengangkat ban belakang setinggi-tingginya dengan menggunakan rem depan). Kemudian wheelie (motor melaju kencang dengan roda depan terangkat tinggi). Lagi dengan burnout (dimana ban belakang terus berputar dengan kondisi motor tetap diam, sampai ban belakang mengeluarkan asap). Hingga sliding (teknik pengereman seraya posisi motor dimiringkan ke arah kiri dan kanan).
“Untuk yang sudah agak mahir, anda bisa mencoba beberapa gaya seperti stand no hand, rodeo, dan rolling stoppie,” tambah pria yang piawai dalam teknik wheelie ini. Malah menurutnya teknik yang ada pada freestyle bukan cuma untuk menguji keberanian saja, namun bisa juga meningkatkan ketangkasan dalam berkendara, terlebih lagi dalam teknik pengereman.
Resiko
Selain menampilkan suguhan menarik, banyak pula yang terinspirasi ingin mencoba sendiri. Alhasil, tentu saja itu berbahaya dan merugikan diri sendiri. Sebab, selain mendapatkan cedera, anda pun sulit untuk menerapkan teknik-tekniknya karena kurang pengetahuan dan informasi untuk itu. Nah, bila ingin mencoba dan bisa terhindar dari segala resiko cedera, ada baiknya anda berlatih dengan yang sudah ahli. Seperti dengan apa yang sudah dilakukan tim Junior Raider Team binaan Suzuki Motor Club.
“Kami biasanya berlatih di tempat atau jalan yang jarang dilewati orang, seperti di belakang terminal bis Stabat atau di Pendopo USU,” ucap Godek. Selain mengasah kemampuan anggota, tim ini juga tidak menutup diri bila ada yang ingin mengetahui dan belajar tentang freestyle. “Malah kalau mau serius, dijamin dalam waktu sejam anda sudah bisa melakukan setiap gaya dasar,” ujar Godek lagi. Akan tetapi sangat tidak dianjurkan bila anda memang tidak menaruh minat. “Kegiatan ini cukup ekstrim, jadi jangan sesekali mencoba tanpa instruktur, karena akibatnya bisa fatal,” tambahnya.
Lagi pula, selama berlatih komunitas ini tidak mengijinkan orang keluar-masuk ke dalam trek. Karena berisiko dan bisa mengakibatkan kecelakaan. Meski begitu, kurangnya fasilitas berupa tempat latihan membuat komunitas ini sulit berkembang. “Padahal, jika saja semua yang berkompeten mau peduli, bukan tidak mungkin kegiatan ini bisa mendulang prestasi,” ucap Kartolo, leader tim Racing Suzuki Medan. Menurutnya, yang paling dibutuhkan freestyler adalah arena tempat berlatih. “Jadi tidak lagi ada istilah ‘curi-curi’ tempat dan diuber-uber petugas,” ucapnya mengakhiri. Sayang, di sini kemampuan aksi freestyler hanya diperlihatkan lewat even launching produk maupun di ajang road race.
Teks oleh Sofyan Siahaan
Foto oleh M. Amir Imanuddin
http://www.aplausthelifestyle.com
|